Sabtu, 11 April 2009

lila....



Selasa, 24 Maret 2009

Film: Kapitalisme Mengebom Jogja


Film dokumenter ini menyoroti terjadinya proses kapitalisasi dalam 4 aspek yang terjadi di Yogyakarta; pendidikan, budaya, ruang sosial, dan ekonomi berorientasi padat kapital. Ditandai dengan pendidikan yang semakin elitis-formal, festival sekaten yang komersial dan semakin mengabur pesan-pesan spiritual dan budayanya, jual beli trotoar dan menyempitnya ruang publik digantikan tempat-tempat parkir, relasi pendatang-anak kos yang semata-mata relasi ekonomi, tumbuhnya berbagai mall, dan cerita tentang ancaman penambangan besi di daerah pesisiran kulonprogo oleh perusahaan asing yang melibatkan keluarga keraton dan pakualaman. Film disertai wawancara pakar pendidikan, mahasiswa, pemilik kos-kosan, dinas kebudayaan, bakul pasar, petani lahan pesisir, dan keluarga pakualaman.

Judul: Kapitalisme Mengebom Kota Yogyakarta
Produksi: STPN dan LiBBRA, Maret 2009
Durasi: 31 menit
Tim Kreatif: A. N. Luthfi, Diar Chandra Tristiawan, Y. Matahari, Dian Andika Winda, M. Nazir, Amin Tohari

Selasa, 10 Maret 2009

Keistimewaan Yogyakarta: Yang Diingat dan Yang Dilupakan



Isu keistimewaan Yogyakarta selalu aktual ketika terkait dengan isu pergantian kekuasaan di Yogyakarta. Beberapa peristiwa bersejarah yang tercatat selalu diiringi dengan isu keistimewaan Yogyakarta itu: wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwanan IX, 1988; penobatan KGPH H Mangkubumi sebagai Sultan Hamengku Buwana X pada 1989; Paku Alam VIII sebagai Penjabat Gubernur pada 19 Desember 1988; wafatnya PA VIII tahun 1998 dan dikukuhkannya Sri Sultan Hamengku Buwana X sebagai gubernur DIY; tahun 2002 dengan dirumuskannya RUU Keistimewaan Yogyakarta; hingga saat ini, tahun 2008, ketika Sri Sultan Hamengku Buwana X mencalonkan diri sebagai presiden RI. .

Pemaknaan terhadap keistimewaan seharusnya ditelisik dari bagaimana masyarakat memaknai dalam ruang sosial budaya mereka. Pemaknaan semacam ini lebih bersifat aktual melebihi aspek judisial atau politiknya. Bukan berarti hal terakhir ini tidak penting, justru aspek judisial dan politik (pemilihan umum misalnya) yang sering disebut sebagai “prosedur-prosedur” dalam berdemokrasi ini harus teruji melalui praktik-praktik aktual di tengah masyarakat. Dan inilah yang disebut sebagai “demokrasi substantif”, ketika pemakaan terhadap praktik berpolitik, bersosial, dan berekonomi, melibatkan pemaknaan yang lahir dari suara-suara akar rumput.
Tulisan ini melihat bagaimana wacana “keistimewaan” dikonstruksikan. Sebagai sebuah konstruksi ia melibatkan banyak unsur yang saling berebutan dalam kompetisi gagasan tentang keistimewaan baik bersifat mendukung, menolak, ataupun berada di tengah-tengah/moderat. Semua letupan gagasan yang tersebar itu sama-sama memiliki andil dalam mengkonstruksi keistimewaan Yogyakarta.
Aspek perebutan ruang dan agraria dikupas tuntas di sini. Sesuatu yang seringkali "dilupakan".

bahagia nian.....


dik lilakila, toet, toet......(kata kak Arin)

Buku 100 Wajah Pram dalam Sketsa


tulisan lamaku ternyata dimuat juga di buku ini. sayang editornya gak ngasih tahu n gak ngasih bukunya juga ke aku, mahal je: 67 rb

Melawan Kolonial (Buku untuk SMP-SMA)


buku baru terbit, kutulis 2007 lalu
200an halaman, diterbitin PIM, Jogja

Senin, 29 Desember 2008

lilakila ketawa .......







Pas jalan-jalan sore, mampir ke wisderkid, kosku dulu. Lila bersesapa dengan Sugeng, Basuki, Eko Kepeng, 3 Makhluk lama yang masih tersisa di Wisderkid.